Tags

, , , , ,

Candidosis adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau sub akut yang disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronkhi, paru-paru atau kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis dan meningitis.1

Penyakit ini terdapat di seluruh dunia menyerang semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai saprofit. Gambaran klinisnya bermacam-macam sehingga tidak diketahui data-data penyebarannya dengan tepat. Berdasarkan penelitian dari Pusat Penelitian Penyakit Menular, Departemen Kesehatan RI menemukan, dari 168 pasien fluor albus yang datang berobat ke Puskesmas Cempaka Putih Barat I, Jakarta tahun 1988/1989 adalah candidiasis sebesar 52,8%. Penelitian itu juga melaporkan bahwa dari 18 ibu hamil dan 25 ibu tidak hamil dan tidak ber-KB yang mengalami fluor albus, sebagian besarnya terinfeksi candidiasis yaitu 66,7% dan 48%.2   

Berdasarkan tempat yang terkena Conant dkk (1971) menyusun klasifikasi sebagai berikut; Candidosis selaput lendir yaitu Candidosis Oral atau (thrush), Perléche, Vulvovaginitis, Balanitis atau balanopostitis, Candidosis mukokutan kronik, Candidosis bronkhopulmonal dan paru. Candidosis kutis yaitu Intertriginosa, Perianal, Generalisata, Paronikia atau onikomikosis dan Candidosis kutis granulomatosa. Candidosis sistemik yaitu Endokarditis, Meningitis, Pielonefritis dan Septikemia.1,2

Candidosis dapat terjadi apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun eksogen. Faktor endogen antara lain perubahan fisiologi seperti kehamilan (terjadi perubahan pH dalam vagina), kegemukan, debilitas, iatrogenik, endokrinopathy (gangguan gula darah kulit) dan penyakit kronik (TBC, Lupus Eritematosus); Umur, pada orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologiknya tidak sempurna; Imunologik  (penyakit genetik). Sedangkan faktor eksogen adalah: iklim, panas dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat, kebersihan kulit, kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur, kontak dengan penderita (thrush, balanopostitis).1-3

Gejala klinik pada candidosis interdigitalis berupa bercak yang berbatas jelas, bersisik, basah, dan eritematosa, disertai dengan rasa gatal.  Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer.2-3

Pemeriksaan penunjang pada candidosis interdigitalis adalah: pemeriksaan langsung kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan Gram, terlihat gambaran Gram positif, sel ragi, blastospora, atau hifa semu.4-7

Penatalaksaan pada candidosis secara garis besar terdiri atas penanganan non-medikamentosa berupa menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi, dan penanganan medikamentosa berupa pengobatan topikal (larutan gentian violet, salep nistatin, dan penggunaan obat-obatan topikal dari golongan Azol, serta pengobatan sistemik berupa penggunaan nistatin, dan obat-obatan oral dari golongan Azol.1-6

KEPUSTAKAAN

  1. Kuswadji. Kandidosis. Dalam Djuanda A, Hamzah M, Alsah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima; Balai Penerbit FK UI. 2007:106-9
  2. Ramali L. S. Kandidiasis Kutan dan Mukokutan: Dermatomikosis Superfisial; Balai  Penerbit FK UI. 2004: 58-73
  3. Graham-Brown R, Burns T, Dermatologi. Blackwell Science Ltd. 2002. Diterjemahkan oleh Zakaria A. Penerbit Erlangga. 2005: 40
  4. SMF/Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNAIR/RSU Dr. Soetomo Surabaya. Atlas Penyakit Kulit dan Kelamin. Airlangga University Press. 2008: 86-92
  5. Siregar R. S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2004: 31-4
  6. Anonymous. Kandidosis Intertiginosa. Available at: http://www.klikdokter.com/illness/detail/136
  7. Anonymous. Kandidosis Kutis. Available at: http://www.fkui.org/tiki-download_wiki_attachment.php?attld=135